Selepas pukul satu..
Berbicara tentang rahasia selalu saja memiliki resiko yang tidak sederhana. Membuka resleting arsip otak, atas memori pengalaman kelam tidak hanya membuat orang menjadi pesakitan dadakan. Namun, beberapa sedikit lebih dalam ketika menengok luka yang masih berkubang darah . Begitupun, masa lalu memang akan tetap menjadi masa lalu. Semua tak akan bisa kembali, karena waktu adalah peluru. Cerita yang sedikit aku kira fiksi ternyata memang suatu realita yang bagaimanapun aku harus tau. Entah apa yang akan terjadi selepas pukul satu, aku tak peduli. Pengakuanmu yang awalnya hanya mengulik telingaku perlahan menjalar menghentak seluruh sistem organ tubuhku. Ketidak sinkronan sepertinya telah terjadi antara organ satu bersama pancaran stimulus menuju otak yang langsung meradiasi organ lain yang kasat, perasaan. Aku tak tau apakah jantung hatiku masih sudi berdetak saat itu.
Aku selalu ingin melakukan setidaknya satu saja pelangkahan kaki. Entah maju maupun mundur, aku siap. Tapi kenyataan sampai sekarang urat-uratku masih belum mampu merelaksasi. Guratan hijau ungu di telapak kakiku menengang, semakin terlihat hingga aku harus benar menyadari kenyataan. Aku “lumpuh”. Bagaimanapun berdiri stagnan dalam waktu yang lama itu sangat sangat tidak mudah. Hey aku lelah!! kamu dengar itu? Bahkan untuk jongkok, duduk dan berbaring pun otot-otot ku sudah ringkih. Barangkali mereka menginginkan untuk pergi dari tubuhku, tubuh yang ternyata mencintai lelaki jalang sepertimu.
#hanyakonotasi-231211
Tidak ada komentar:
Posting Komentar