
Sabtu, 26 Maret 2011
s'écria-t-star

Rabu, 23 Maret 2011
forgive myself
Jumat, 11 Maret 2011
selamat ulangtahun, sayang
Waktu memang tak pernah berhenti. Bahkan sampai saat ini aku masih tidak percaya bahwa hingga detik ini kita masih tetap bisa berjalan bersama, bergandengan, menelusuri jalan terjal yang kita sendiri tak tau arahnya kemana, melewati beberapa persimpangan yang terkadang sempat membuat aku ingin sekali menyerah.
Hari ini, usiamu tepat 19tahun. Usia yang cukup dewasa bukan? berusahalah untuk tetap jadi yang terbaik dan yang terindah. Waktu akan terus berjalan, kadang merambat, kadang berlari, ada suka dan ada duka. Tapi percayalah.. selama aku mampu, selama aku sanggup untuk bertahan aku akan berusaha tetap menjaga semuanya. Canda, pertengkaran, emosi, kejengkelan dan rajukan, atau bahkan ketika kita saling berdiam diri, itu semuanya hanya tindakan yang berbalut rindu.
Aku yang tak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa berdoa semoga kau selalu dalam lindungan Allah SWT. Maaf aku belum bisa berada di dekatmu saat ini.. Dan untuk kamu yang disana.. jangan sampai lupa ibadah, semoga semakin dewasa, dan semakin mengerti akan tanggungjawab.
Selamat ulangtahun sayang, aku merindumu.
Selasa, 08 Maret 2011
Kegilaanku: Memaafkanmu (lagi)
Untuk keberapa puluh, bahkan keberapa ratus kali aku berhasil memaafkanmu untuk kesalahan yang sama. Senja di sore itu, amarahku benar-benar memuncak. 1 jam 15 menit tepat aku menunggumu hanya untuk mengatakan sesuatu yang sebenarnya mustahil untuk aku katakan. Yah.. aku merelakan waktuku tersita hanya untuk menunggu orang sepertimu.
Sesekali melihat jam tangan dan menengok ke arah kiri jalan, dan akhirnya akupun menemukanmu. Dengan kaos berkerah berwarna hitam, dan kau sambut aku dengan senyum yang sebenarnya memang sedang sangat aku rindukan. Munafik! Aku tau apa yang ada dalam pikiranmu, kau hanya ingin menyenangkanku saja. Atau mungkin ini kau hanya berhipokrit? Aku benar-benar tak ingin melihat sorot matamu sedikitpun. Aku hanya ingin bicara, meluapkan segala apa yang ada dalam pikiranmu.
Bangsat !!!!!!!! Tamparan itu membekas di wajahmu. sakit? ah.. itu belum apa-apa, tak sebanding dengan sakit yang aku rasakan dalam hatiku. Apa yang kau pikirkan ketika kau melakukan kesalahan yang sama? Apa kau tidak memikirkan perasaankuku? Apa kau hanya menganggapku sebagai seonggok daging yang hanya kau perlukan jika kau butuh? Jika benar, wajar jika aku berumpat tentangmu.
10 bulan bukanlah waktu yang singkat untuk merubah karakter seseorang. Aku telah berusaha, tetapi sepertinya tabiat telah melekat erat dalam jiwamu. Aku menyerah.. air mataku pun tumpah.
Jumat, 04 Maret 2011
Bukan buta, melainkan tutup mata
Sedikit coretanku kali ini, aku ingin berbicara tentang seseorang. Ya, seseorang yang aku percaya sepenuhnya untuk menjaga hatiku. Dia hebat, dia telah berhasil memaksaku untuk mendewasakan diri atas sikap dia. Aku tak tau bagaimana mendeskripsikan dia secara detil. Satu kata yang patut aku teriakkan dengan lantang untuk dia adalah EGOIS. Lucu ya, aku jatuh cinta dengan orang yang egois. Cinta buta? Tidak, cintaku bukan cinta buta. Lebih tepat disebut cinta tutup mata. Aku memang tahu segala kebusukan dia di belakang, aku tau segalanya. Namun aku mencoba untuk selalu menutup mataku, menutup mata dari realita yang seharusnya membuatku sadar. Aku memang bodoh, tetapi aku selalu menggangggap bahwa aku akan lebih bodoh ketika aku harus menyerah untuk membuat dia berubah.
Sebuah polemik memang. Kini aku berada dalam ketidak sadaran atas sesuatu yang menyakitkan diriku sendiri. Aku terlalu yakin atas jawaban hatiku. Memang bukan hanya satu,dua orang yang memintaku untuk membuka mataku. Sia-sia.. aku tetap ingin terpejam, aku tetap ingin berada dalam ketidaksadaran yang sesungguhnya hanya menyakitkan diri dan hatiku sendiri.
Aku menyayanginya? tentu saja.. sangat!
Tetapi, apa aku tidak menyayangi diriku sendiri hingga rela dibuat sakit karenanya?
Entahlah..
Hari ini mungkin aku harus mencoba untuk membuka mataku perlahan. Apa yang aku lihat ketika aku membuka mata itu urusan nanti. Dan konsekuensi, ketika aku memutuskan untuk benar-benar membuka mataku maka aku harus siap jika suatu saat aku harus menangis.