Sabtu, 26 Maret 2011

s'écria-t-star


Dia jahat. Dia nggak pernah ada ketika aku butuh. Dia nggak pernah peduli bagaimana sulitnya aku mempertahankan hubungan ini. Backstreet plus long distance. Sangat rumit!
Apa saja yang aku lakukan sepertinya sia-sia. Aku telah membangun benteng pertahanan hatiku untuk dia. Aku menjaga jarak dari orang-orang terdekatku yang sebenarnya jauh lebih sempurna dari dia. Aku jaga hatiku sepenuhnya. Tapi sekarang, aku merasa cukup! Semua harus disudahi. Dan aku berhak membahagiakan diriku sendiri.


"..harusnya tak ku paksakan bila akhirnya kan melukaiku.."

Rabu, 23 Maret 2011

forgive myself

Ini lebih kepada bagaimana kita berintrospeksi diri. Bagaimana kita diharuskan untuk menilai dan mempersepsi diri sendiri secara 'telanjang' tanpa kebohongan.

Saya sedang membenci diri saya sendiri. Saya telah melakukan kesalahan fatal yang bahkan berada diluar jangkauan pikiran saya. Dan saya merasa seakan hidup saya tidak berguna lagi selama saya ada dalam penjara bertajuk penyesalan ini. Bayang-bayang kesalahan itu selalu menjadi iblis yang bersarang di otak saya!
Bergelut dengan penyesalan memang tindakan yang sia-sia. Saya sangat mengerti itu. Namun, kemarahan saya terhadap diri saya sendiri begitu besar. Saya mungkin bisa memaafkan anda -orang yang terlibat dalam kesalahan saya- , tapi untuk memaafkan diri saya sendiri, sepertinya tidak membutuhkan waktu yang singkat. Saya akan berusaha sedikit demi sedikit, meskipun itu sulit, menerjang bayang-bayang itu, bukan melupakan tetapi lebih kepada menjadikannya sebuah pelajaran. Saya akan mencoba memaafkan diri saya untuk kesalahan yang telah saya perbuat dan memahami bahwa begitu berharganya diri saya. Saya akan bangkit, pasti !

Jumat, 11 Maret 2011

selamat ulangtahun, sayang

Waktu memang tak pernah berhenti. Bahkan sampai saat ini aku masih tidak percaya bahwa hingga detik ini kita masih tetap bisa berjalan bersama, bergandengan, menelusuri jalan terjal yang kita sendiri tak tau arahnya kemana, melewati beberapa persimpangan yang terkadang sempat membuat aku ingin sekali menyerah.

Hari ini, usiamu tepat 19tahun. Usia yang cukup dewasa bukan? berusahalah untuk tetap jadi yang terbaik dan yang terindah. Waktu akan terus berjalan, kadang merambat, kadang berlari, ada suka dan ada duka. Tapi percayalah.. selama aku mampu, selama aku sanggup untuk bertahan aku akan berusaha tetap menjaga semuanya. Canda, pertengkaran, emosi, kejengkelan dan rajukan, atau bahkan ketika kita saling berdiam diri, itu semuanya hanya tindakan yang berbalut rindu.

Aku yang tak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa berdoa semoga kau selalu dalam lindungan Allah SWT. Maaf aku belum bisa berada di dekatmu saat ini.. Dan untuk kamu yang disana.. jangan sampai lupa ibadah, semoga semakin dewasa, dan semakin mengerti akan tanggungjawab.

Selamat ulangtahun sayang, aku merindumu.

Selasa, 08 Maret 2011

Kegilaanku: Memaafkanmu (lagi)

Kegilaan apa lagi ini?
Untuk keberapa puluh, bahkan keberapa ratus kali aku berhasil memaafkanmu untuk kesalahan yang sama. Senja di sore itu, amarahku benar-benar memuncak. 1 jam 15 menit tepat aku menunggumu hanya untuk mengatakan sesuatu yang sebenarnya mustahil untuk aku katakan. Yah.. aku merelakan waktuku tersita hanya untuk menunggu orang sepertimu.
Sesekali melihat jam tangan dan menengok ke arah kiri jalan, dan akhirnya akupun menemukanmu. Dengan kaos berkerah berwarna hitam, dan kau sambut aku dengan senyum yang sebenarnya memang sedang sangat aku rindukan. Munafik! Aku tau apa yang ada dalam pikiranmu, kau hanya ingin menyenangkanku saja. Atau mungkin ini kau hanya berhipokrit? Aku benar-benar tak ingin melihat sorot matamu sedikitpun. Aku hanya ingin bicara, meluapkan segala apa yang ada dalam pikiranmu.
Bangsat !!!!!!!! Tamparan itu membekas di wajahmu. sakit? ah.. itu belum apa-apa, tak sebanding dengan sakit yang aku rasakan dalam hatiku. Apa yang kau pikirkan ketika kau melakukan kesalahan yang sama? Apa kau tidak memikirkan perasaankuku? Apa kau hanya menganggapku sebagai seonggok daging yang hanya kau perlukan jika kau butuh? Jika benar, wajar jika aku berumpat tentangmu.
10 bulan bukanlah waktu yang singkat untuk merubah karakter seseorang. Aku telah berusaha, tetapi sepertinya tabiat telah melekat erat dalam jiwamu. Aku menyerah.. air mataku pun tumpah.
Beberapa menit...
Setan apa lagi yang membujukku untuk menatap matamu lagi. Lagi dan lagi. Ini gila.
Setauku, sebuah kesalahan yang fatal ketika aku kembali menatap matamu disaat situasi seperti ini. Itu artinya dengan aku menampar egoku dan memberimu kesempatan lagi, memberimu ruang untuk melakukan kesalahan itu lagi.
Hahaha.. that's right,
finally aku tetap memaafkanmu. Sekali lagi, ini kegilaan!

Jumat, 04 Maret 2011

Bukan buta, melainkan tutup mata

Setelah lama vakum dari blog ku yang malang ini. Aku berniat akan memulai untuk menulis lagi. Menulis apa yang ingin aku tulis. Bebas.. tentang perasaan yang aku rasakan. Berbicara soal perasaan. Sulit sekali menggambarkan bagaimana keadaan perasaanku saat ini. Perasaan dan logika memang memiliki jarak yang sangat jauh. Namun tanpa kita sadari, sebenarnya proporsi mereka itu sama, hanya bagaimana kemampuan kita untuk mempekerjakan mereka sesuai dengan fungsinya.
Sedikit coretanku kali ini, aku ingin berbicara tentang seseorang. Ya, seseorang yang aku percaya sepenuhnya untuk menjaga hatiku. Dia hebat, dia telah berhasil memaksaku untuk mendewasakan diri atas sikap dia. Aku tak tau bagaimana mendeskripsikan dia secara detil. Satu kata yang patut aku teriakkan dengan lantang untuk dia adalah EGOIS. Lucu ya, aku jatuh cinta dengan orang yang egois. Cinta buta? Tidak, cintaku bukan cinta buta. Lebih tepat disebut cinta tutup mata. Aku memang tahu segala kebusukan dia di belakang, aku tau segalanya. Namun aku mencoba untuk selalu menutup mataku, menutup mata dari realita yang seharusnya membuatku sadar. Aku memang bodoh, tetapi aku selalu menggangggap bahwa aku akan lebih bodoh ketika aku harus menyerah untuk membuat dia berubah.
Sebuah polemik memang. Kini aku berada dalam ketidak sadaran atas sesuatu yang menyakitkan diriku sendiri. Aku terlalu yakin atas jawaban hatiku. Memang bukan hanya satu,dua orang yang memintaku untuk membuka mataku. Sia-sia.. aku tetap ingin terpejam, aku tetap ingin berada dalam ketidaksadaran yang sesungguhnya hanya menyakitkan diri dan hatiku sendiri.
Aku menyayanginya? tentu saja.. sangat!
Tetapi, apa aku tidak menyayangi diriku sendiri hingga rela dibuat sakit karenanya?
Entahlah..
Hari ini mungkin aku harus mencoba untuk membuka mataku perlahan. Apa yang aku lihat ketika aku membuka mata itu urusan nanti. Dan konsekuensi, ketika aku memutuskan untuk benar-benar membuka mataku maka aku harus siap jika suatu saat aku harus menangis.