10 Desember 2011
Datang ke Jogja dengan rencana yang tiba-tiba tersusun tepat sehari sebelumnya. Sempat ragu apakah ayah dapat meluangkan waktunya untukku ditengah kesibukan pekerjaan. Namun, seorang ayah memang selalu menghargai dan tepat janji. Ayah datang dengan membawa kerinduan atas hari-harinya bersamaku, putri kecilnya yang kini telah beranjak dewasa. Putri kecilnya yang dulu beliau angkat untuk duduk dibahunya. Sungguh, sampai saat ini aku merasa disitulah tempat duduk terbaik di dunia..
Sekitar pukul 8 aku segera menaiki motorku menuju daerah Janti untuk menjemput beliau. Deg-deg'an. Bahkan kira-kira deg-deg'annya lebih satu tingkat daripada pengumuman IPK.
Sampai Jembatan Janti..
Aku menemukan ayah berada di depan salah satu minimarket ternama yang kebetulan memiliki banyak cabang. Beliau melihat kearahku, aku menemukan senyum simpul itu disana. Senyum yang justru menampilkan guratan-guratan di wajahnya yang selama ini telah menjadi semangatku hingga aku mampu bertahan, berdiri disini. Segera aku membelokkan motorku ke arah tempat beliau menungguku. Berhenti.
Diatas motor, aku memeluk ayah dari belakang. Sambil menahan haru, aku mencoba untuk membuka percakapan, mulai tentang kabar, jadwal kontrol gigi hingga kondisi motor. Kembali aku merekam semua nasihat baik yang tersurat maupun tersirat dari kata-kata yang diucapkannya. Arghh tiba-tiba dadaku sesak. Aku merasakan ada sedikit cairan yang memaksa keluar dari mataku. Aku menyekanya.
Detik berganti menit, menit berganti jam. Waktu rasanya begitu singkat. Seharian aku dimanjakan dengan mengitari kota Jogja bersama ayah. Seharian aku leluasa menikmati aroma tubuhnya dari belakang, melihat peluh yang beliau curahkan ditemani keringat yang menetes dari pelipisnya. Aku membayangkan bahwasanya beliaulah yang selalu berfikir dan bekerja keras untuk membayar biaya kuliahku tiap semester, bahkan meski aku tengah alpa untuk membantunya atau sekedar menghitung berapa banyak kerutan di dahinya. Terlihat jelas dari kerling matanya betapa dia sangat menyayangiku. Kembali, dibelakangnya aku menyeka air yang keluar dari mataku, lebih dari sedikit..
Pukul 4 sore, ayah berkata padaku bahwa ia harus segera pulang. Sebenarnya aku sangat menginginkan beliau menginap, menghabiskan waktu bersama di kota ini lebih lama. Tetapi atas pertimbangan a b c d, ayah tetap memutuskan untuk pulang ke kota kami, kota kecil yang benar2 ngangenin.
Di persimpangan jalan Malioboro, ayah masih senantiasa melingkarkan lengannya di bahu kecilku seperti yang beliau lakukan disepanjang perjalanan siang ini. Sesekali matanya menatapku, memberikan senyum simpulnya, lagi.

Di ujung tepat di halte bus Trans Jogja, disinilah aku harus merelakan ayah pulang. Aku s
engaja tak ingin menunggu sampai beliau mendapatkan bus. Aku berpamit untuk kembali ke persinggahan, tanpa e
kspresi. Sempat ayah menanyakan apakah aku baik-baik saja? Aku sangat tahu bahwa dalam hal ini ayah sengaja berpura-pura bertanya. Aku tahu persis sedetail apa beliau mengerti apa yang aku rasakan.
Aku segera mencium tangan ayah, tanpa menatap matanya aku membalikkan
tubuhku. Dadaku benar-benar sesak, air mataku pun akhirnya tumpah tak tertahan. Entah apa yang dikatakan orang di sekeliling ruas jalan itu ketika mereka melihat aku menangis.
Aku beranikan diri untuk menoleh ke belakang. Disana kudapati ayah yang masih senantiasa melihat kearahku, memastikan bahwa aku benar-benar baik-baik saja. Dia menjagaku lewat tatapannya hingga aku menyeberang
jalan, menjauh, dan kemudian menghilang dari jangkauan penglihatannya..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar