Jumat, 29 April 2011

papa.. (。◕‿◕。)

dia adalah idolaku yang paling hebat
darinya aku belajar segala hal
dia pemberi pengaruh besar bagi kehidupanku
papa..


i love you, papa..

masih teringat jelas
ketika dulu dia sering mengangkatku keatas punggung atau bahunya
ketika dulu dia selalu mendongeng sebelum aku terlelap
ketika dulu dia selalu membuatkan tahu setengah matang untuk sarapan pagi hariku

waktu ternyata begitu cepat
ingin sekali rasanya aku kembali mengulang masa-masa itu
ketika aku masih menjadi gadis kecil yang selalu ingin dimanjakannya
ketika aku masih tidak ingin tidur sebelum mendengar ceritanya
ketika aku masih tidak ingin makan tanpa suapan darinya
ketika aku benar-benar tak ingin melakukan sesuatu jika tanpa bantuan dia
ketika aku masih leluasa menikmati aroma tubuhnya
merasakan hembusan nafasnya ketika dia menjaga dan mendekapku dalam lelap

missing the time

yang aku tahu dari papa..
papa selalu percaya bahwa aku bisa menjadi apapun yang aku mau
papa selalu percaya bahwa aku bisa melakukan sesuatu lebih darinya
bahkan papa tetap selalu percaya ketika aku sendiri meragukan kemampuanku
papa selalu menghargai pilihanku meskipun itu bertentangan dengan keinginannya
papa adalah orang pertama yang khawatir tentang keadaanku, sampai saat ini
bahkan ketika aku telah menjadi mahasiswa seperti sekarang
setiap pagi papa masih sering meneleponku, memberikan perhatian khusus walau sekedar membangunkan dan menanyakan apakah aku sudah makan atau belum
papa masih memberikan kehangatannya seperti dulu
menunjukkan tulus kasih sayangnya kepada anak yang kini bukan lagi gadis kecilnya yang manja

papa itu hebat..
i love you papa..
aku sayang papa.. selalu dan selamanya

"Tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayangku untuknya
ku trus berjanji takkan khianati pintanya..
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya ku mencintaimu
kan ku buktikan ku mampu penuhi maumu..."

love papa, always.. and forever

P.S : kadang aku bertanya-tanya, apa yang papa rasakan ketika mendapati aku yang sekarang bukan lagi gadis kecilnya? apakah papa juga merasakan kerinduan yang sama denganku akan momen-momen ketika aku selalu ingin dimanjakannya? apakah papa bangga melihat gadis kecilnya kini tumbuh dewasa? atau malah sebaliknya?

Kamis, 28 April 2011

SAKIT

seperti ini rasanya sakit
mencoba bertahan diatas larangan untuk mempertahankan
terpaksa aku harus menghapus imajinasi atas momen-momen yang kuharap akan terjadi lagi di lain hari
momen ketika musik-musik itu menyatukan kita, menghadirkan seulas tarikan disudut bibir kita
momen ketika hujan gerimis itu menyatukan kita, membuat kita lebih dekat dari biasanya
momen ketika tempat-tempat itu menjadi saksi bisu kisah kita
seperti ini rasanya sakit
ketika kamu mulai menyerah, menawarkan satu solusi untuk menyudahi semuanya
membuatku berantakan dan merasa dalam kondisi sangat tidak baik ketika harus menahan air mataku
aku meringkuk pilu dalam kepedihan melihat senyum klise yang kau berikan saat itu
aku tahu kamu sakit
aku sangat tahu kamu semakin merasa tersudut dengan keadaan yang sama-sama tidak kita inginkan
memang, untuk kesekian kali, dalam urusan ini pun, aku lebih memilih bungkam dan membiarkannya mengalir begitu saja
aku selalu yakin akan jawaban hatiku bahwa waktu akan memberi jawaban atas segala problematika kita berdua
aku sempat berpikir bahwa ini tidak akan bertahan
cepat atau lambat ini pasti akan segera berakhir
tapi tidak sekarang..
aku masih belum memiliki formula untuk menguatkan hatiku ketika aku harus kehilanganmu
aku masih menginginkanmu tinggal sejenak untuk menemaniku
aku masih membutuhkanmu untuk bersamaku menikmati rasa sakit itu

Rabu, 27 April 2011

merindukanmu

Kamis, 21 April 2011

Celoteh Malam Kamis

Malam masih memberikan pesonanya, hingga saat ini aku masih terjaga. Bulan juga masih setia menemani insomnia malamku saat aku sedikit merasa lebih baik dari dari hari-hari sebelumnya. Kini aku duduk bersila di depan laptop sembari berusaha memainkan kata-kata yang tertumpuk dalam otakku yang sebagian akan aku ungkapkan dalam postingan kali ini.

Seklumit tentang bagaimana aku menikmati hidup. Beberapa hari ini aku merasa sedikit lebih tenang dari hari-hari sebelumnya. Aku berhasil mengusir kegalauanku yang kemarin nyaris mencapai tingkat dewa (nggak perlu ya, aku ceritakan lagi sebab-sebab galau itu.. nggak penting!)
Well, 2 hari yang lalu aku resmi meninggalkan angka 17 dari umurku. Bisa dikatakan angka sakral ini kutinggalkan diiringi dengan perubahan perilaku dari fase remaja menjadi dewasa. what? dewasa?
Ya, DEWASA. Aku memang pernah membenci kedewasaan. Dewasa itu rumit. Dewasa itu horor. Dewasa itu adalah diri kita secara telanjang. Namun, seiring berjalannya waktu beberapa faktor membuat diriku bisa sedikit menikmati keadaanku yang kini berada satu langkah di lantai kedewasaan. Dewasa yang aku rasakan kali ini lebih mengajarkan kita memahami orang lain.. Seperti aku dan sahabatku, Melinda. Kita sebenarnya sangat-sangat berbeda. Kita selalu punya pandangan dan selera yang berbeda.. Tapi memang begitulah. Setiap orang memiliki kacamata sendiri-sendiri dalam memandang suatu hal. Kemarin, aku menghabiskan malam terakhir usia 17 tahunku bersama gadis berkacamata itu. Aku melihat bintang bersamanya. Kita melupakan kegalauan masing-masing (dan kalau dia sih galaunya pasti gara-gara cowoknya, dan sebenarnya.... haduhhh...>_< ). Malam itu, dia memberiku mini tart cake dan kado berupa mug. Nice :) Tetapi sebenarnya lebih kepada momen bersamanya lah yang menurutku so precious. Ulangtahun di tengah kota rantauan dimana aku hidup harus mandiri seperti ini, kukira akan kulewati sendiri. Aku kira setahun yang lalu adalah momen ultah terakhir bersama teman-teman yang tak dapat aku temukan lagi disini. Ternyata aku salah. Disini aku punya teman baru. Lebih dari teman. Kehidupan baru. Melinda is my close friend who can make me laugh off. Tidak hanya dia sebenarnya, beberapa teman yang lain juga sangat berharga. Mereka adalah kekuatan batinku. Dengan berbagai karakteristik mereka membuatku mengerti bagaimana menempatkan sikap pada setiap orang. Mereka semua memang tak seperti sahabatku Meytaliana yang selalu bisa memahamiku, tetapi disini mereka begitu menyenangkanku. Mereka juga memang tak seperti Santi yang selalu bisa menenangkanku, mereka sangat bisa menghiburku. (•‿•)

Rabu, 13 April 2011

PILU

Sejenak menenangkan diri dari rasa pilu yang harus ku lawan sendiri..
Asa yang sulit kugapai membuatku hampir menyerah. Menepis keadaan yang tidak sesuai kenyataan akan membuatku munafik untuk terlihat tetap berdiri seperti batang-batang pohon yg kokoh. Lapisan-lapisan epidermis diriku mungkin terlihat indah dalam balut senyuman yang sebenarnya mengimplisitkan kepiluan. Semuanya kukemas dan kusimpan dalam-dalam untuk diriku sendiri.

Rasa yang gamblang perlahan membunuhku tetap aku banggakan. Ketika suaramu tak lagi kudengar, ketika nafasmu tak lagi kurasakan, dan ketika senyummu tak mungkin lagi kunikmati. Rasa itu lebih dari perih.. lebih dari sakit.. Menyeruak gontai membuatku lelah untuk mengeluarkan air mata lagi. Aku telah bertekuk lutut dibawah tawa kenyataan yang sangat memilukan. Aku sangat menerima kekalahan dalam pengharapan yang sebenarnya aku tahu kelak akan berujung seperti ini. Dan
sekarang waktunya.. ketika rasa memaksa untuk benar-benar menghilang, satu per satu aku harus mengumpulkan kembali hatiku yang telah menjadi lebih ironis dari serpihan-serpihan..

Selasa, 12 April 2011

baik-baik saja

Aku yakin semuanya akan tetap baik-baik saja
Disaat kita berdua sama-sama mulai menjauh
Disaat tidak ada lagi jalan tengah bagi perdebatan kita
Dan disaat aku nyaris mengambil satu langkah kebelakang, semuanya akan tetap baik-baik saja.

Kamu dan aku akan baik-baik saja
Tanpa aku, kamu akan baik-baik saja
Tanpa kamu?
Tenanglah.. aku juga pasti akan baik-baik saja

Tapi malam ini..
Tak bosan-bosannya kembali aku mengulas memori indah yang pernah aku lalui denganmu
Memori yang sepertinya telah terpatri secara permanen dalam otakku
Memori yang melukiskan kebahagiaan masa lalu walaupun tak bertahan lama
Dadaku kembali sesak
Sesaat saluran nafasku berhenti
Air mataku tumpah

Dan apakah aku masih baik-baik saja?
ketika baik-baik saja menjadi sebuah kemunafikan
ketika baik-baik saja hanya sebagai dalih untuk menghibur diri

Sabtu, 09 April 2011

Pedih by Last Child

Engkau yang sedang patah hati
Menangislah dan jangan ragu ungkapkan
Betapa pedih hati yang tersakiti
Racun yang membunuhmu secara perlahan

Engkau yang saat ini pilu
Betapa menanggung beban kepedihan
Tumpahkan sakit itu dalam tangismu
Yang menusuk relung hati yang paling dalam

Hanya diri sendiri
Yang tak mungkin orang lain akan mengerti
Di sini ku temani kau dalam tangismu
Bila air mata dapat cairkan hati
Kan ku cabut duri pedih dalam hatimu
Agar kulihat, senyum di tidurmu malam nanti
Anggaplah semua ini
Satu langkah dewasakan diri
Dan tak terpungkiri
Juga bagi…

Engkau yang hatinya terluka
Di peluk nestapa tersapu derita
Seiring saat keringnya air mata
Tak mampu menahan pedih yang tak ada habisnya

Hanya diri sendiri
Yang tak mungkin orang lain akan mengerti
Di sini ku temani kau dalam tangismu
Bila air mata dapat cairkan hati
Kan ku cabut duri pedih dalam hatimu
Agar kulihat, senyum di tidurmu malam nanti
Anggaplah semua ini
Satu langkah dewasakan diri
Dan tak terpungkiri
Juga bagi..mu…


*nggak tau kenapa tiba-tiba pengen nge-post lirik lagu ini. Terbawa suasana hati kali yak :D

Jumat, 08 April 2011

dia, menghubungiku!

kemarin. ya, kemarin.
kemarin dia menghubungiku! dia yang sangat berharga, dia yang sangat mengesankan, dia yang dulu pernah bersamaku dalam waktu hitungan detik.
Sekitar pukul 12.08 siang, telepon sellulerku berbunyi. Sebuah nomor tak dikenal mengirim message:
*ayo kuliah untuk meraih sukses!
Seperti biasa, aku selalu menganggap nomor tak dikenal dengan sms yang nggak jelas dan nggak butuh balasan seperti itu adalah sesuatu yang nggak penting.
Malamnya.. setelah aku seharian menghabiskan waktu bersama si Agatha dengan nge-pump dikarenakan UTS yang sedikit mengoyak pikiranku yang kurang terpartisi dengan baik, aku kembali menatap layar handphone. Tetap tak ada sms masuk. Kebetulan aku juga sedang ada masalah dengan pacarku. Entah kenapa aku terpikirkan oleh nomor yang meng-smsku siang tadi. Perasaan dan pikiranku mendorong untuk menanyakan siapa si pengirim sms yang nggak penting itu. Untuk mengisi waktu luang di tengah kegalauanku juga sih sebenarnya...
#ini siapa?
*ada deh
#he??
*Aku han mbak. nomorku yang baru
degggg !!!!!
#Hanani?
*Rahasia
#Han,tanya! Pendaftaran SNMPTN uda ditutup belum?
*udah dr dulu. kenapa?
#Pengen ikut lagi
*kan udah kuliah?
#kan pengen ikut lagi?
*ben opo luh? kepinteren to mbak?
#iyo e. peh susah jadi orang pinter :p
*guayai
#hahaha. tp kata temenku belum tutup
*udah yang undangan. tp aku yang umum belum mulai mungkin
#ya tadi maksudku itu yang umum
*tol jrontol
#asemm! wo.. bocah
*dungakne klebu UGM
#amiiin, traktir tp lak keterima
*yo gudeg..
#3x sehari dalam seminggu tapi
*nafsu amat?
#whatever. yang penting traktir. dulu pnah mau traktir ga jadi-jadi
*Gudeg jogja to.. tenang ae
#pokoke 3x sehari dalam seminggu
*Gak kurang ta mbak? ben ndang lemu
#aku ki wes lemu dul
*Lha piye to?
#rahasia
*Ah masa bodo..
#hmm,
*kenapa sariawan y
#dasar anak SMA..
*Situ kan dulu juga anak SMA.. aneh
#Dasar anak SMA jaman sekarang
*Dasar anak kuliah jaman sekarang..
Seperti itulah. Percakapan yang nggak penting memang, tapi dia.. dia sangat penting untuk aku. Aku yang selama ini hanya bisa mengingat kata-katanya yang begitu mengesankan. Aku yang selama ini hanya bisa melihatnya melalui orang lain. Ya, melihatnya dari orang lain yang menjadi kekasihku saat ini, yang seharusnya memiliki hatiku sepenuhnya..