Jumat, 23 Desember 2011

Hanya Konotasi

Selepas pukul satu..

Berbicara tentang rahasia selalu saja memiliki resiko yang tidak sederhana. Membuka resleting arsip otak, atas memori pengalaman kelam tidak hanya membuat orang menjadi pesakitan dadakan. Namun, beberapa sedikit lebih dalam ketika menengok luka yang masih berkubang darah . Begitupun, masa lalu memang akan tetap menjadi masa lalu. Semua tak akan bisa kembali, karena waktu adalah peluru. Cerita yang sedikit aku kira fiksi ternyata memang suatu realita yang bagaimanapun aku harus tau. Entah apa yang akan terjadi selepas pukul satu, aku tak peduli. Pengakuanmu yang awalnya hanya mengulik telingaku perlahan menjalar menghentak seluruh sistem organ tubuhku. Ketidak sinkronan sepertinya telah terjadi antara organ satu bersama pancaran stimulus menuju otak yang langsung meradiasi organ lain yang kasat, perasaan. Aku tak tau apakah jantung hatiku masih sudi berdetak saat itu.

Aku selalu ingin melakukan setidaknya satu saja pelangkahan kaki. Entah maju maupun mundur, aku siap. Tapi kenyataan sampai sekarang urat-uratku masih belum mampu merelaksasi. Guratan hijau ungu di telapak kakiku menengang, semakin terlihat hingga aku harus benar menyadari kenyataan. Aku “lumpuh”. Bagaimanapun berdiri stagnan dalam waktu yang lama itu sangat sangat tidak mudah. Hey aku lelah!! kamu dengar itu? Bahkan untuk jongkok, duduk dan berbaring pun otot-otot ku sudah ringkih. Barangkali mereka menginginkan untuk pergi dari tubuhku, tubuh yang ternyata mencintai lelaki jalang sepertimu.

#hanyakonotasi-231211

Sabtu, 10 Desember 2011

Episode

10 Desember 2011

Datang ke Jogja dengan rencana yang tiba-tiba tersusun tepat sehari sebelumnya. Sempat ragu apakah ayah dapat meluangkan waktunya untukku ditengah kesibukan pekerjaan. Namun, seorang ayah memang selalu menghargai dan tepat janji. Ayah datang dengan membawa kerinduan atas hari-harinya bersamaku, putri kecilnya yang kini telah beranjak dewasa. Putri kecilnya yang dulu beliau angkat untuk duduk dibahunya. Sungguh, sampai saat ini aku merasa disitulah tempat duduk terbaik di dunia..

Sekitar pukul 8 aku segera menaiki motorku menuju daerah Janti untuk menjemput beliau. Deg-deg'an. Bahkan kira-kira deg-deg'annya lebih satu tingkat daripada pengumuman IPK.

Sampai Jembatan Janti..
Aku menemukan ayah berada di depan salah satu minimarket ternama yang kebetulan memiliki banyak cabang. Beliau melihat kearahku, aku menemukan senyum simpul itu disana. Senyum yang justru menampilkan guratan-guratan di wajahnya yang selama ini telah menjadi semangatku hingga aku mampu bertahan, berdiri disini. Segera aku membelokkan motorku ke arah tempat beliau menungguku. Berhenti.

Diatas motor, aku memeluk ayah dari belakang. Sambil menahan haru, aku mencoba untuk membuka percakapan, mulai tentang kabar, jadwal kontrol gigi hingga kondisi motor. Kembali aku merekam semua nasihat baik yang tersurat maupun tersirat dari kata-kata yang diucapkannya. Arghh tiba-tiba dadaku sesak. Aku merasakan ada sedikit cairan yang memaksa keluar dari mataku. Aku menyekanya.

Detik berganti menit, menit berganti jam. Waktu rasanya begitu singkat. Seharian aku dimanjakan dengan mengitari kota Jogja bersama ayah. Seharian aku leluasa menikmati aroma tubuhnya dari belakang, melihat peluh yang beliau curahkan ditemani keringat yang menetes dari pelipisnya. Aku membayangkan bahwasanya beliaulah yang selalu berfikir dan bekerja keras untuk membayar biaya kuliahku tiap semester, bahkan meski aku tengah alpa untuk membantunya atau sekedar menghitung berapa banyak kerutan di dahinya. Terlihat jelas dari kerling matanya betapa dia sangat menyayangiku. Kembali, dibelakangnya aku menyeka air yang keluar dari mataku, lebih dari sedikit..

Pukul 4 sore, ayah berkata padaku bahwa ia harus segera pulang. Sebenarnya aku sangat menginginkan beliau menginap, menghabiskan waktu bersama di kota ini lebih lama. Tetapi atas pertimbangan a b c d, ayah tetap memutuskan untuk pulang ke kota kami, kota kecil yang benar2 ngangenin.

Di persimpangan jalan Malioboro, ayah masih senantiasa melingkarkan lengannya di bahu kecilku seperti yang beliau lakukan disepanjang perjalanan siang ini. Sesekali matanya menatapku, memberikan senyum simpulnya, lagi.
Di ujung tepat di halte bus Trans Jogja, disinilah aku harus merelakan ayah pulang. Aku s
engaja tak ingin menunggu sampai beliau mendapatkan bus. Aku berpamit untuk kembali ke persinggahan, tanpa e
kspresi. Sempat ayah menanyakan apakah aku baik-baik saja? Aku sangat tahu bahwa dalam hal ini ayah sengaja berpura-pura bertanya. Aku tahu persis sedetail apa beliau mengerti apa yang aku rasakan.
Aku segera mencium tangan ayah, tanpa menatap matanya aku membalikkan
tubuhku. Dadaku benar-benar sesak, air mataku pun akhirnya tumpah tak tertahan. Entah apa yang dikatakan orang di sekeliling ruas jalan itu ketika mereka melihat aku menangis.

Aku beranikan diri untuk menoleh ke belakang. Disana kudapati ayah yang masih senantiasa melihat kearahku, memastikan bahwa aku benar-benar baik-baik saja. Dia menjagaku lewat tatapannya hingga aku menyeberang
jalan, menjauh, dan kemudian menghilang dari jangkauan penglihatannya..