Senin, 19 Maret 2012

Masih(kah) ada lagi

Minggu pagi yang tidak seperti biasanya. Sisa-sisa air mata tadi malam melekatkan kedua pelupuk mata, semakin enggan untuk terbuka. Hari ini dan hari-hari selanjutnya akan jauh berbeda. Masihkah kamu bersedia memberikan bahu sebagai sandaranku? Masihkah ada dadamu yang kau sigapkan untuk membasuh air mataku setiap aku terluka? Semua akan begitu abu-abu. Sebelumnya, aku pernah berpesan pada hati agar tidak terlalu dalam mencintaimu. Aku tak ingin tersiksa rindu saat aku sudah tak berhak merasakan itu. Namun nyatanya? hatiku egois untuk tetap terjun terlalu dalam. Aku telah berusaha membangun komitmen, memaklumi segala tentang keadaanmu yang memuakkan, memaafkan kesalahan yang berulang, mengorbankan hatiku digerogoti kesakitan itu.
Ya, tapi akhirnya aku sadar ketika komitmen yang aku pertaruhkan memang tak semulus yang dibayangkan. Aku, lebih tepatnya kami, mungkin harus melupakan janji-janji yang pernah terucap, menaguhkan cerita celoteh asmara yang pernah saling kita umbar. Tapi, aku tidak pernah menyesal mengambil keputusan itu, seperti aku yang tidak pernah menyesal bertemu denganmu.

Jumat, 16 Maret 2012

happy birth-bye

Hei, selamat ulangtahun untuk kali kedua aku ucapkan ini sejak aku dan kamu bersepakat menjadi “kita”. Selamat ulangtahun untuk kamu yang kini sudah berkepala dua, sudah dewasa tentunya.
Tepat pukul 00.00 ketika aku meneleponmu dengan rajauan airmata yang tentu kau tak lihat. Aku yang memberimu ucapan kebahagiaan dalam balutan emosi dan perih, menggugurkan segala macam stigma buruk yang beberapa hari telah mengkakukan kontak. Memang, kita tak sedang bertengkar kini. Beradu argumen kecil pun tak. Hanya gurau sedikit dan kecanggungan yang sengaja disembunyikan agar semua terlihat baik-baik saja. Semacam klise. Beberapa sempat kita tertawa kecil, saling berucap rindu, bahkan berjuluk sayang. Aku tahu bahwa mensinergikan antara hati dan pikiran kini akan merambah pada dua ekspresi yang bertolak belakang. Malam ini, meski kita tak lagi berdebat, kita tak lagi berbicara luka, namun kata-kata indah yang saling kita ucapkan itu fana. Seiring berakhirnya detik telepon ke seribu tiga ratus tujuh, akankah berakhir pula apa yang kita bangun selama hampir bulan ke dua puluh dua, sayang?
Sebentar, masih boleh aku menyebutmu sayang? Ah sebutan lama.