Kamis, 27 Oktober 2011

Sketsa


Masih canggung sebenernya kalo gue mesti cerita ke orang lain tentang kemunafikan gue yang sok nggak butuh dia. Tapi hari ini berasa berat banget. Gue nggak bisa terus-terusan kayak orang yang mengais-ngais sesuatu yang dengan sigap bakal gue sakuin lagi rapet-rapet. Malam ini gue memutuskan untuk jalan, cari angin (alasannya sih..). Gue ngajak salah satu temen yang memungkinkan untuk nggak bosen mendengar celoteh gue yang.. well, GALAU. Rasanya pengen nampar muka gue sendiri, biar sadar kalo dia udah bukan siapa-siapa gue. Nggak boleh berharap lebih ketika dia perhatian. Toh nggak setiap saat juga perhatiannya! Tapi itu susah.. gue munafik kalo gue sebenernya emang belum ikhlas dia pergi. Ya kalo seumpama nggak ada judgement eksternal kayak gitu tapi ujung-ujungnya tetep bakal putus, itu sih nggak apa2. Sakit sekali, mendalam, dan udah.. tapi dengan adanya alasan gono gini yang intinya adalah 'kita berbeda' malah ngebuat kita mikir yang macem-macem sampe masa depan semu juga. Kenapa sih cinta selalu dikaitkan dengan derajat, materi, status sosial, pendidikan dan apalah itu? Ada nggak sih cinta yg bener-bener pure yang mampu merealitaskan bahwa "diciptakannya perbedaan agar kita saling melengkapi".
Rasanya semangkuk es krim brownies yang gue pesan rasanya hambar. Biasanya gue bisa ngabisin 2-3 mangkuk. Tapi malam ini semangkuk aja udah rasanya bikin eneg. Dan akhirnya gue lebih memilih pesan cappucinno. Gue cicip sedikit di pinggir cangkir. Panas dan pahit. Tapi entah ada sensasi yang tak seperti biasanya. Pahit cappucinno telah menghapus rasa manis es krim dari mulut gue. Terhenyak, tiba-tiba berpikir bahwa keadaan ini sepertimu. Manis, seperti semua hal yang sudah kau buat dan permanenkan dalam pikiranku. Hambar, ketika aku menyadari bahwa keberanianmu mutlak untuk ku hargai sepenuhnya. Panas, ketika aku berusaha untuk menerka-nerka bagaimana perasaanmu. Pahit, ketika aku harus berkelit agar tak terlihat masih mencintaimu. Hmm tak apalah, ini belum seberapa. Aku memutuskan untuk menghisap cappucinno itu lagi, lebih banyak. Sekali lagi. Aku mulai menyukainya, sepertinya. Aku mulai menyukai sensasi pahit itu, nikmat sekali. Aku merasa menemukan sedikit rasa manis disana, yang terselip diantara kepahitan. Sangat nikmat. Tiba-tiba terdengar percikan air. Hey, gerimis. Aku menyukaimu. Kemari, berbaurlah bersama air mataku. Aku berlari keluar, tempat dimana tak ada penghalang antara gerimis dan tubuhku. Ku biarkan gerimis membasahiku, memberikan kesejukan setelah aku merasakan fase manis, hambar, panas dan pahit. Aku suka gerimis. Dia datang di akhir acara ketika aku membutuhkannya. Adakah nanti ku temukan orang yang sepertimu, gerimis?M

Selasa, 25 Oktober 2011

word with heart and soul

pelihara ikhlas ku Ya Allah, rencanamu pasti lebih indah..

Senin, 24 Oktober 2011

"..seminggu setelah kau pergi ku masih sembunyi di balik senyum palsuku.." - sheila on7 -

Hey, sudah senin lagi. Senin yang masih di bulan oktober, namun sudah berganti angka darihari 17 menjadi 24. Tepat satu minggu setelah dia beranjak melangkahkan kaki yang sama sekali tidak aku ketahui arahnya, entah ke depan maupun ke belakang. Satu langkah yang dia putuskan untuk tidak lagi beriringan bersamaku, meskipun hingga kini kita (mungkin) masih merasa bergandengan tangan. Well, kita berada dalam posisi menyerong, membentuk diagonal.
Sedikit pelukisan tentang perasaanku ketika harus mengikuti alur yang dia buat sedemikian rupa. Dia mengemudikanku dengan caranya sendiri. Belok ke kiri, ke kanan sembari mundur, kemudian ke kiri lagi, maju, menanjak, berhenti dan seterusnya.. tanpa memerhatikan marka. Tarik ulur membuatku menjadi aktor pesakitan yang tanpa sadar sangat kunikmati. Aku kira ini biasa. Kuciptakan se-biasa mungkin bahkan sampai aku tidak menganggap apapun. Ibarat hanya ada kerikil diantara pasir yang menghilang. Semu. Beberapa kali aku menampar ketidakwajaranku dalam bersikap menghadapi perubahan yang terjadi. Mestinya, aku lebih lapang untuk bersikap yang semestinya, meskipun hanya klise.
Aku dan dia (sengaja aku sebut "dia", bukan lagi "kamu") semakin samar dipondasikan rasa yang masih sama. Sama seperti ketika masih bersama. Keadaan memang memaksa kita berubah, tetapi hati? Rasa itu tak bisa menghilang begitu saja. Hati bukan kaca berembun yang dengan mudahnya diusap. Bukan juga istana pasir yang dibuat bocah pantai yang dengan mudahnya lenyap diterjang ombak. Hati ibarat kertas yang ketika dibakar hanya akan menjadi abu yang tak bernilai, ketika disobek tak bisa kembali utuh seperti semula tanpa bautan isolasi. Hati terlalu rapuh, bahkan untuk berbohong..

Rabu, 19 Oktober 2011

Over Prisoners

Ternyata, sudah terlalu lama aku berdiri berpegang pada benteng pertahanan yang sengaja kita buat dulu

Aku pikir, hari masih terlalu pagi

Pun, mentari sepertinya masih terlelap

Kabut belum tersibak

Langit, awan, dan embun juga masih senantiasa terjaga

Aku tidak yakin

Kita, ketika kita masih menjadi kita yang sesungguhnya

Hanya ada kamu dan aku, setidaknya

Namun evolusi kini memberi realitas yang berbeda ketika selama kita tidak bicara tentang ‘kita’, maka segalanya akan baik-baik saja

Tentang konsep perpisahan yang kau tawarkan pagi itu, cukupkah aku mampu mengasumsikan?

Sesuatu yang tak bisa ku pahami ketika harus menjadi pesakitan dalam balut kata solusi

Sesuatu yang aku yakini salah namun benar adanya

Sesuatu yang sesungguhnya sulit untuk diterima ketika rasa menjadi nyawa

Aku sempat sesaat tak yakin ketika kau menusukkan kata dimana kebersamaan sama dengan menyakitkan

Semakin lama berpegang pada benteng pertahanan kuno kita, kiramu semakin mengangakan luka yang senantiasa bedarah

Bahwa perpisahan ini untuk kebaikan kita berdua

Aku tak ingin melukaimu, katamu

Aku hanya akan menjadi beban dalam pemenuhan cintamu, katamu

Jangan pertaruhkan selamanya, hanya untuk orang sepertiku, katamu

Aku masih tidak yakin

Karena cinta mutlak tidak butuh alasan, apapun!

Selasa, 11 Oktober 2011

Today, ur special day. My angel..



mama sayang..
hari ini hari jadinya mama
hari specialnya mama
selamat ulang tahun ya
semoga diberi kelancaran dalam bekerja
semoga diberi kesuksesan dalam membangun karir
semoga diberi kesabaran dalam segala hal

mama yang sehat ya..
mama jangan pernah sakit
dimataku, mama itu tetep jadi malaikat
mama itu bidadari paling cantik
bahkan kerutan wajah yang semakin nampak dan perubahan warna rambutmu tak sedikitpun mengurangi kecantikan yang kau pancarkan

Mama tau nggak?
sakit rasanya di hari spesial ini nggak bisa lihat senyum mama..
aku disini dan mama disana
aku yang telalu sibuk dengan rutinitasku
menjaga kepercayaan besar yang kau genggamkan ditanganku
Mama..
Aku kangen


my chants prayers in your special day, love you mom..



Ya Allah..
Terimakasih hingga detik ini Engkau masih mengijinkanku untuk memilikinya
menikmati senyumnya
Jaga selalu mamaku Ya Allah..
Jangan biarkan air mata menggores pipinya
Berilah dia kekuatan, kesehatan, dan kesabaran yang berlimpah
Dalam doa aku memohon
Beri segalanya yang terbaik diantara yang terbaik untuk mama
Ijinkan aku memberi kebahagiaan diseluruh hidupnya
Demi cintanya yang tiada bertepi
Demi kasihnya yang abadi


Senin, 10 Oktober 2011

Pijakan dalam doa



Tuhan
Demi malam ini aku mohon
Ijinkan aku bercengkerama denganmu
Mendiskusikan apa yang aku hayatkan
Ijinkan aku menangis
Bersimpuh mengeluhkan sesuatu yang memuakkan

Tuhan
Demi malam ini aku mohon
Beri nilai yang semestinya aku dihadapan mereka
Beri segalanya yang mampu membinarkan mata mereka
Kebanggaan diatas pengorbanan

Tuhan
Demi malam ini aku mohon
Berikan aku sedikit daya untuk menopang masa yang kian bertambah di pundakku
Berikan aku energi untuk maju mengikuti alur kehidupanku
Jangan buat aku rapuh, selalu.