Hey, sudah senin lagi. Senin yang masih di bulan oktober, namun sudah berganti angka darihari 17 menjadi 24. Tepat satu minggu setelah dia beranjak melangkahkan kaki yang sama sekali tidak aku ketahui arahnya, entah ke depan maupun ke belakang. Satu langkah yang dia putuskan untuk tidak lagi beriringan bersamaku, meskipun hingga kini kita (mungkin) masih merasa bergandengan tangan. Well, kita berada dalam posisi menyerong, membentuk diagonal.
Sedikit pelukisan tentang perasaanku ketika harus mengikuti alur yang dia buat sedemikian rupa. Dia mengemudikanku dengan caranya sendiri. Belok ke kiri, ke kanan sembari mundur, kemudian ke kiri lagi, maju, menanjak, berhenti dan seterusnya.. tanpa memerhatikan marka. Tarik ulur membuatku menjadi aktor pesakitan yang tanpa sadar sangat kunikmati. Aku kira ini biasa. Kuciptakan se-biasa mungkin bahkan sampai aku tidak menganggap apapun. Ibarat hanya ada kerikil diantara pasir yang menghilang. Semu. Beberapa kali aku menampar ketidakwajaranku dalam bersikap menghadapi perubahan yang terjadi. Mestinya, aku lebih lapang untuk bersikap yang semestinya, meskipun hanya klise.
Aku dan dia (sengaja aku sebut "dia", bukan lagi "kamu") semakin samar dipondasikan rasa yang masih sama. Sama seperti ketika masih bersama. Keadaan memang memaksa kita berubah, tetapi hati? Rasa itu tak bisa menghilang begitu saja. Hati bukan kaca berembun yang dengan mudahnya diusap. Bukan juga istana pasir yang dibuat bocah pantai yang dengan mudahnya lenyap diterjang ombak. Hati ibarat kertas yang ketika dibakar hanya akan menjadi abu yang tak bernilai, ketika disobek tak bisa kembali utuh seperti semula tanpa bautan isolasi. Hati terlalu rapuh, bahkan untuk berbohong..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar