
Masih canggung sebenernya kalo gue mesti cerita ke orang lain tentang kemunafikan gue yang sok nggak butuh dia. Tapi hari ini berasa berat banget. Gue nggak bisa terus-terusan kayak orang yang mengais-ngais sesuatu yang dengan sigap bakal gue sakuin lagi rapet-rapet. Malam ini gue memutuskan untuk jalan, cari angin (alasannya sih..). Gue ngajak salah satu temen yang memungkinkan untuk nggak bosen mendengar celoteh gue yang.. well, GALAU. Rasanya pengen nampar muka gue sendiri, biar sadar kalo dia udah bukan siapa-siapa gue. Nggak boleh berharap lebih ketika dia perhatian. Toh nggak setiap saat juga perhatiannya! Tapi itu susah.. gue munafik kalo gue sebenernya emang belum ikhlas dia pergi. Ya kalo seumpama nggak ada judgement eksternal kayak gitu tapi ujung-ujungnya tetep bakal putus, itu sih nggak apa2. Sakit sekali, mendalam, dan udah.. tapi dengan adanya alasan gono gini yang intinya adalah 'kita berbeda' malah ngebuat kita mikir yang macem-macem sampe masa depan semu juga. Kenapa sih cinta selalu dikaitkan dengan derajat, materi, status sosial, pendidikan dan apalah itu? Ada nggak sih cinta yg bener-bener pure yang mampu merealitaskan bahwa "diciptakannya perbedaan agar kita saling melengkapi".
Rasanya semangkuk es krim brownies yang gue pesan rasanya hambar. Biasanya gue bisa ngabisin 2-3 mangkuk. Tapi malam ini semangkuk aja udah rasanya bikin eneg. Dan akhirnya gue lebih memilih pesan cappucinno. Gue cicip sedikit di pinggir cangkir. Panas dan pahit. Tapi entah ada sensasi yang tak seperti biasanya. Pahit cappucinno telah menghapus rasa manis es krim dari mulut gue. Terhenyak, tiba-tiba berpikir bahwa keadaan ini sepertimu. Manis, seperti semua hal yang sudah kau buat dan permanenkan dalam pikiranku. Hambar, ketika aku menyadari bahwa keberanianmu mutlak untuk ku hargai sepenuhnya. Panas, ketika aku berusaha untuk menerka-nerka bagaimana perasaanmu. Pahit, ketika aku harus berkelit agar tak terlihat masih mencintaimu. Hmm tak apalah, ini belum seberapa. Aku memutuskan untuk menghisap cappucinno itu lagi, lebih banyak. Sekali lagi. Aku mulai menyukainya, sepertinya. Aku mulai menyukai sensasi pahit itu, nikmat sekali. Aku merasa menemukan sedikit rasa manis disana, yang terselip diantara kepahitan. Sangat nikmat. Tiba-tiba terdengar percikan air. Hey, gerimis. Aku menyukaimu. Kemari, berbaurlah bersama air mataku. Aku berlari keluar, tempat dimana tak ada penghalang antara gerimis dan tubuhku. Ku biarkan gerimis membasahiku, memberikan kesejukan setelah aku merasakan fase manis, hambar, panas dan pahit. Aku suka gerimis. Dia datang di akhir acara ketika aku membutuhkannya. Adakah nanti ku temukan orang yang sepertimu, gerimis?M
Dari mana pun cinta itu datang, dari arah yang salah atau benar, torehan pertamanya selalu jadi yang paling meyakitkan. Mungkin karena kita membuka seluruh hati. Mungkin juga karena dia membutakan, hingga tanpa sadar kita melepaskan semua pertahanan diri dan membayangkan versi terindah semua fairytale yang pernah kita baca dan dengar
BalasHapus