Kegilaan apa lagi ini?
Untuk keberapa puluh, bahkan keberapa ratus kali aku berhasil memaafkanmu untuk kesalahan yang sama. Senja di sore itu, amarahku benar-benar memuncak. 1 jam 15 menit tepat aku menunggumu hanya untuk mengatakan sesuatu yang sebenarnya mustahil untuk aku katakan. Yah.. aku merelakan waktuku tersita hanya untuk menunggu orang sepertimu.
Sesekali melihat jam tangan dan menengok ke arah kiri jalan, dan akhirnya akupun menemukanmu. Dengan kaos berkerah berwarna hitam, dan kau sambut aku dengan senyum yang sebenarnya memang sedang sangat aku rindukan. Munafik! Aku tau apa yang ada dalam pikiranmu, kau hanya ingin menyenangkanku saja. Atau mungkin ini kau hanya berhipokrit? Aku benar-benar tak ingin melihat sorot matamu sedikitpun. Aku hanya ingin bicara, meluapkan segala apa yang ada dalam pikiranmu.
Bangsat !!!!!!!! Tamparan itu membekas di wajahmu. sakit? ah.. itu belum apa-apa, tak sebanding dengan sakit yang aku rasakan dalam hatiku. Apa yang kau pikirkan ketika kau melakukan kesalahan yang sama? Apa kau tidak memikirkan perasaankuku? Apa kau hanya menganggapku sebagai seonggok daging yang hanya kau perlukan jika kau butuh? Jika benar, wajar jika aku berumpat tentangmu.
10 bulan bukanlah waktu yang singkat untuk merubah karakter seseorang. Aku telah berusaha, tetapi sepertinya tabiat telah melekat erat dalam jiwamu. Aku menyerah.. air mataku pun tumpah.
Untuk keberapa puluh, bahkan keberapa ratus kali aku berhasil memaafkanmu untuk kesalahan yang sama. Senja di sore itu, amarahku benar-benar memuncak. 1 jam 15 menit tepat aku menunggumu hanya untuk mengatakan sesuatu yang sebenarnya mustahil untuk aku katakan. Yah.. aku merelakan waktuku tersita hanya untuk menunggu orang sepertimu.
Sesekali melihat jam tangan dan menengok ke arah kiri jalan, dan akhirnya akupun menemukanmu. Dengan kaos berkerah berwarna hitam, dan kau sambut aku dengan senyum yang sebenarnya memang sedang sangat aku rindukan. Munafik! Aku tau apa yang ada dalam pikiranmu, kau hanya ingin menyenangkanku saja. Atau mungkin ini kau hanya berhipokrit? Aku benar-benar tak ingin melihat sorot matamu sedikitpun. Aku hanya ingin bicara, meluapkan segala apa yang ada dalam pikiranmu.
Bangsat !!!!!!!! Tamparan itu membekas di wajahmu. sakit? ah.. itu belum apa-apa, tak sebanding dengan sakit yang aku rasakan dalam hatiku. Apa yang kau pikirkan ketika kau melakukan kesalahan yang sama? Apa kau tidak memikirkan perasaankuku? Apa kau hanya menganggapku sebagai seonggok daging yang hanya kau perlukan jika kau butuh? Jika benar, wajar jika aku berumpat tentangmu.
10 bulan bukanlah waktu yang singkat untuk merubah karakter seseorang. Aku telah berusaha, tetapi sepertinya tabiat telah melekat erat dalam jiwamu. Aku menyerah.. air mataku pun tumpah.
Beberapa menit...
Setan apa lagi yang membujukku untuk menatap matamu lagi. Lagi dan lagi. Ini gila.
Setauku, sebuah kesalahan yang fatal ketika aku kembali menatap matamu disaat situasi seperti ini. Itu artinya dengan aku menampar egoku dan memberimu kesempatan lagi, memberimu ruang untuk melakukan kesalahan itu lagi.
Hahaha.. that's right,
finally aku tetap memaafkanmu. Sekali lagi, ini kegilaan!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar