Minggu pagi yang tidak seperti biasanya. Sisa-sisa air mata tadi malam melekatkan kedua pelupuk mata, semakin enggan untuk terbuka. Hari ini dan hari-hari selanjutnya akan jauh berbeda. Masihkah kamu bersedia memberikan bahu sebagai sandaranku? Masihkah ada dadamu yang kau sigapkan untuk membasuh air mataku setiap aku terluka? Semua akan begitu abu-abu. Sebelumnya, aku pernah berpesan pada hati agar tidak terlalu dalam mencintaimu. Aku tak ingin tersiksa rindu saat aku sudah tak berhak merasakan itu. Namun nyatanya? hatiku egois untuk tetap terjun terlalu dalam. Aku telah berusaha membangun komitmen, memaklumi segala tentang keadaanmu yang memuakkan, memaafkan kesalahan yang berulang, mengorbankan hatiku digerogoti kesakitan itu.
Ya, tapi akhirnya aku sadar ketika komitmen yang aku pertaruhkan memang tak semulus yang dibayangkan. Aku, lebih tepatnya kami, mungkin harus melupakan janji-janji yang pernah terucap, menaguhkan cerita celoteh asmara yang pernah saling kita umbar. Tapi, aku tidak pernah menyesal mengambil keputusan itu, seperti aku yang tidak pernah menyesal bertemu denganmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar