Pagi itu..
Ketika mungkin kau masih terjaga dalam mimpimu, aku datang.
Ketika mungkin kau masih menikmati sedakan rasa tanpaku, aku datang.
Ketika mungkin kau masih berusaha menahan racauan bulshitmu, aku datang.
Aku datang dengan segala apa-apa yang telah kupersiapkan sebelumnya. Aku mengabaikan semua emosi yang telah mendarah dalam jiwaku akibat egomu. Aku menampar akal sehatku untuk tetap diam dalam balutan dendam. Ya, Pagi itu..
Sejenak terpaku ketika aku berhasil menemukan hunian sederhana dimana kamu ada di tubuhnya. Helaan nafas panjang sesekali sembari mengumpulkan power untuk memintamu yang ada di dalam sana untuk menemuiku.
Tak cukup lama.. kira-kira lima menit, sepuluh menit. Aku melihatmu muncul dari balik papan berkayu itu. Masih sesuai dugaan sebelumnya akan raut wajah yang akan kau sajikan untukku.
Kau datang, perlahan, berjalan dan menghampiri.. seklumit ciri caramu semakin membuatku yakin bahwa kau sangat menginginkan aku untuk berkata "aku memaafkanmu".
Ekspektasiku bersama embun pagi itu adalah membuatmu merasa sangat bersalah atas sifat busuk yang seakan kau banggakan. Aku menginginkan kamu benar-benar menahun untuk kali ini saja. Ya setidaknya, sebagai sesuatu yang harus kau bayar selama kau berada dibawah kesadaran ketika menyakitiku secara perlahan.
Hari itu, pagi itu.. tiga belas Mei dua ribu sebelas. Aku telah merasa berhasil membuatmu bertekuk. Entah berapa kali kamu ucapkan kata maaf, penyesalan dan beberapa kata lain sebagai pendeskripsian akan sakitmu saat itu. Seperti bukan kamu, karena memang tak pernah aku mendapatimu dalam keadaan seperti ini. Ini kali pertama aku merasa bisa meruntuhkan balutan egomu. Satu tetes, dua tetes air matamu aku indikasikan bahwa apa yang aku mau telah terwujud. Aku tak peduli air mata buaya, kadal, cicak atau apapun yang kau tunjukkan waktu itu. Aku juga tak peduli jika nanti ternyata itu hanya topeng untuk menarik perhatianku. Sekali lagi, aku tak peduli. Aku tak mau memikirkannya lebih jauh, biarkan aku menikmati kelegaan atas ekspektasiku tentangmu pagi itu..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar