Senin, 09 Mei 2011

aku menikmatinya..

Ini kali pertama aku sengaja untuk tidak menyempatkan waktu untuk menemuimu. Terjebak dalam masalah yang entah sudah berapa kali terjadi dalam 1 tahun terakhir ini. Perbedaan argumen kecil selalu bisa menjadi big problem for us. Mungkin kita memang ditakdirkan berbeda dalam segala hal. Tak pernah sekalipun aku mendapati persamaan pikiran antara kita berdua. Perbedaan membatasi kita.

Kemarin, kau tawarkan lagi solusi mengerikan itu. Menyentil lirih terdengar diujung telingaku betapa kamu telah berada dalam titik kelelahan. Kau menyerah diatas segalanya. Aku menikmati setiap detil kata-kata yang kau berikan lewat pesan itu. Aku menikmati ketika rasa sakit itu mulai datang perlahan sampai pada akhirnya bersarang permanen dalam hatiku. Kali ini aku tak akan berontak. Aku putuskan untuk meleburkan dendamku atas kelakuanmu yang terlalu cerdas memutar cerita. Aku bungkam. Biarlah kusimpan sendiri rasa sakit ini. Biarlah aku menikmatinya sendirian.

Aku adalah orang tolol yang sedang mengingat seseorang yang telah melupakanku. Aku selalu menganggap bahwa hanya aku yang merasakan pahitnya racun yang semakin mengoyak bara kehidupanku. Tetapi malam ini aku mendapati kau yang sedang meracau kacau lebih tolol dari aku. Kau buat dirimu semakin rendah di hatiku. Kau seakan menarik kembali diriku dengan dalih penyesalan yang kau rasakan. Heii, apa kau tahu bahwa aku menikmatinya? Haaaha.. aku menikmati ketika kau juga menikmati rasa sakit itu. Mengapa? Karena dengan keadaan seperti inilah satu-satunya cara kita menjadi pribadi dengan pemikiran yang sama. Sadarkah kamu bahwa dalam keadaan seperti inilah perbedaan tidak berani muncul untuk membatasi kita?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar