Minggu, 25 November 2012

Kau maya, mengudara


Ia datang membawa pesona lelaki sederhana. Bahkan bisa dibilang nyaris jauh dari kata istimewa.

Aku dan dia berkenalan diantara rintik hujan. Lagi-lagi hujan! Hujan selalu membuat hati seperti teremas. Suaranya yang berirama layaknya desahan mantra untuk menghadirkan kenangan bagi kebanyakan manusia diluar sana.  Berbeda ketika aku telah berhasil dibuat lemas oleh serbuan nada, meskipun awalnya biasa saja. Hasil rangkaiannya menyimpan beribu tanda tanya. Dia memang pemain kata yang lebih dari sekadar brilian. 

Kadang perasaan yang tak kau ketahui memang membuat seseorang menjadi aneh” begitu katamu.

Ya, Tuhan pasti punya maksud tertentu untuk apa kita saling mengenal. Dan aku percaya. Sungguh. Sejak malam itu, aku menjadi sering membayangkan bagaimana jari-jarimu menari. Memainkan huruf-huruf diatas keyboard untuk membentuk frasa-frasa sederhana. Terkadang, kau melenyapkan diri begitu cepat. Datang dan pergi sesuka hati.  Sekalipun, aku memang tak peduli. Mengapa? Karena kau maya. Kita akan hanya saling mengudara. Tetapi tunggu dulu, ijinkan aku berandai! Suatu ketika, bila Tuhan memberi kesempatan, sesungguhnya aku ingin cerita kita diungkap. Suatu malam nanti, kau akan datang dengan senyum. Dan tanpa harus berbalas kata pun, aku pastikan bahwa aku akan mengenalimu, meski kita belum pernah bertemu. Atau... setidaknya, kau sudi untuk mampir di mimpiku :D




Jogja,
membayangkan pelangi di matanya selepas hujan barusan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar