Ia datang
membawa pesona lelaki sederhana. Bahkan bisa dibilang nyaris jauh dari kata
istimewa.
Aku dan dia berkenalan diantara rintik hujan. Lagi-lagi hujan! Hujan selalu membuat hati seperti teremas. Suaranya yang berirama layaknya desahan mantra untuk menghadirkan kenangan bagi kebanyakan manusia diluar sana. Berbeda ketika aku telah berhasil dibuat lemas oleh serbuan nada, meskipun awalnya biasa saja. Hasil rangkaiannya menyimpan beribu
tanda tanya. Dia memang pemain kata yang lebih dari sekadar brilian.
“Kadang perasaan yang tak kau ketahui memang
membuat seseorang menjadi aneh” begitu katamu.
Ya, Tuhan
pasti punya maksud tertentu untuk apa kita saling mengenal. Dan aku percaya.
Sungguh. Sejak malam itu, aku menjadi sering membayangkan bagaimana jari-jarimu
menari. Memainkan huruf-huruf diatas keyboard untuk membentuk frasa-frasa
sederhana. Terkadang, kau melenyapkan diri begitu cepat. Datang dan pergi sesuka
hati. Sekalipun, aku memang tak
peduli. Mengapa? Karena kau maya. Kita akan hanya saling mengudara. Tetapi tunggu
dulu, ijinkan aku berandai! Suatu ketika, bila Tuhan memberi kesempatan,
sesungguhnya aku ingin cerita kita diungkap.
Suatu malam nanti, kau akan datang dengan senyum. Dan tanpa harus berbalas kata pun,
aku pastikan bahwa aku akan mengenalimu, meski kita belum pernah bertemu. Atau... setidaknya, kau sudi untuk mampir
di mimpiku :D
Jogja,
membayangkan pelangi di matanya selepas hujan barusan
membayangkan pelangi di matanya selepas hujan barusan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar